Nyeri Perut pada Awal Kehamilan: Kenali Tanda Hamil Ektopik
Nyeri atau kram perut dapat muncul pada trimester awal kehamilan seiring perubahan tubuh. Meski keluhan ini tidak selalu menandakan masalah, nyeri yang semakin kuat perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan.
Kehamilan ektopik membutuhkan penanganan medis. Jika lokasi kehamilan pecah, kondisi tersebut dapat menyebabkan perdarahan di dalam perut dan membahayakan ibu hamil. Berikut penjelasan dr. Keven Pratama Manas Tali, Sp.OG, mengenai gejala yang perlu diwaspadai.
Nyeri yang makin hebat perlu diperhatikan
Kram perut pada awal kehamilan tidak selalu menjadi tanda adanya gangguan. Namun, ibu hamil perlu waspada jika sakitnya terus bertambah atau terasa jauh lebih nyeri dibandingkan kram menstruasi.
Menurut dr. Keven, nyeri yang semakin parah bisa menandakan penyakit lain, termasuk kehamilan ektopik. Kondisi ini umumnya dapat terdeteksi pada trimester pertama.
“Jadi gejalanya ini mungkin bisa merupakan gejala suatu penyakit yang lainnya. Karena kehamilan ektopik itu biasanya bisa dideteksi pada saat hamil trimester awal atau trimester 1,” jelas dr. Keven melalui unggahan video di Instagram pribadinya, @dokterkeven.
Apa itu kehamilan ektopik?
Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel di luar rahim. Dalam kehamilan normal, sel telur yang dibuahi bergerak menuju rahim untuk menempel dan berkembang. Pada kehamilan ektopik, proses penempelan terjadi di lokasi lain.
Tempat yang paling sering menjadi lokasi kehamilan ektopik adalah tuba falopi, saluran yang menghubungkan indung telur dengan rahim. Kehamilan ini juga dapat terjadi di indung telur, leher rahim atau serviks, maupun rongga perut.
Karena tumbuh di luar rahim, kehamilan ektopik tidak dapat berkembang seperti kehamilan normal dan memerlukan penanganan medis.
Gejala dapat menyerupai kehamilan biasa
Pada tahap awal, kehamilan ektopik kadang tidak menimbulkan gejala khas. Tanda-tandanya dapat menyerupai kehamilan biasa, seperti mual, payudara terasa lebih kencang, dan terlambat menstruasi.
Seiring perkembangannya, gejala dapat berupa nyeri perut dan perdarahan dari vagina. Keluhan tersebut bisa semakin berat dan terkadang menyerupai gejala penyakit lain, seperti radang usus buntu.
Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah pecahnya lokasi kehamilan. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan di dalam perut dan nyeri yang sangat hebat. Dr. Keven menjelaskan, rasa sakitnya bisa membuat ibu hamil kesulitan berjalan atau bahkan pingsan.
“Jadi ibaratnya bisa sampai pingsan dan nggak bisa jalan. Kalau mau jalan pun jadi terpapah-papah gitu ya, sampai membungkuk. Dan juga beberapa orang bisa sampai pingsan saking nyerinya karena perdarahan di dalam perut,” jelasnya.
Kapan perlu memeriksakan diri ke dokter?
Ibu hamil yang mengalami nyeri perut semakin parah, terutama jika sakitnya jauh lebih hebat daripada kram menstruasi, sebaiknya segera menjalani pemeriksaan. Jika kehamilan ektopik telah terdeteksi, pemeriksaan lanjutan diperlukan agar dokter dapat menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi kehamilan.
“Jadi apabila Moms sudah dideteksi kehamilan ektopik, itu Moms harus langsung periksa ke dokter dan juga harus ada penanganan yang lebih tepat ya. Definitif plan-nya apa,” ujar dr. Keven.
Nyeri perut pada awal kehamilan tidak selalu berarti terjadi masalah. Namun, nyeri yang semakin berat atau disertai perdarahan dari vagina perlu mendapat perhatian dan pemeriksaan medis.


Tinggalkan Balasan