Bayi dan Toddler Mulai Belajar, Perlukah Langsung Dikenalkan dengan Akademik?
Melihat anak mulai bisa menyusun balok, menirukan suara binatang, atau menyebutkan beberapa kata baru memang menyenangkan. Rasanya setiap minggu selalu ada kemampuan baru yang muncul.
Di tengah rasa senang itu, kadang muncul pertanyaan lain. Apakah stimulasi yang diberikan di rumah sudah cukup? Perlukah anak mengikuti kelas sejak usia satu tahun? Kalau teman seusianya sudah mulai mengenal angka dan huruf, apakah si kecil juga harus diajarkan hal yang sama?
Pertanyaan seperti ini cukup wajar, terutama bagi orang tua yang baru pertama kali mendampingi tumbuh kembang anak.
Padahal, cara bayi dan toddler belajar sangat berbeda dengan anak yang sudah memasuki usia sekolah. Pada tahap awal kehidupan, pengalaman sehari-hari justru menyediakan banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuan baru.
Apa Sebenarnya Arti Belajar bagi Bayi dan Toddler?
Coba perhatikan anak yang sedang bermain dengan dua buah wadah.
Ia memasukkan balok ke wadah pertama, mengeluarkannya lagi, kemudian mencoba memasukkannya ke wadah kedua. Aktivitas itu mungkin terlihat sederhana bagi orang dewasa. Namun, anak sedang mencoba memahami hubungan antara benda, ruang, gerakan tangan, dan hasil dari tindakannya.
Hal serupa terjadi ketika anak menjatuhkan mainan berulang kali.
Bisa jadi orang tua sudah lelah memungutnya. Sementara bagi anak, kegiatan tersebut merupakan kesempatan untuk mengamati apa yang terjadi ketika sebuah benda dilepaskan.
Pengalaman seperti inilah yang banyak ditemukan dalam kegiatan belajar bayi dan toddler.
Mereka menggunakan tubuh dan pancaindra untuk mengenali lingkungan. Suara, tekstur, gerakan, ekspresi wajah, serta interaksi dengan orang lain menjadi bagian dari proses tersebut.
Kemampuan akademik formal belum perlu menjadi fokus utama. Anak justru membutuhkan kesempatan bergerak, bermain, berkomunikasi, dan mencoba berbagai hal dalam lingkungan yang aman.
Aktivitas yang Bisa Dicoba di Rumah
Orang tua sebenarnya tidak harus menyediakan mainan mahal atau perlengkapan khusus untuk memberikan stimulasi.
Beberapa kegiatan sederhana berikut dapat dilakukan menggunakan benda yang tersedia di rumah.
Bermain dengan Berbagai Tekstur
Sediakan beberapa bahan aman sesuai usia, seperti kain lembut, spons bersih, atau bola dengan permukaan berbeda.
Biarkan anak meraba, memegang, dan mengeksplorasi teksturnya. Orang tua bisa menemani dengan menyebutkan kata-kata sederhana, seperti “halus”, “lembut”, atau “kasar”.
Pastikan benda yang digunakan cukup besar, tidak mudah terlepas menjadi bagian kecil, dan aman jika disentuh anak. Pendampingan orang dewasa tetap diperlukan.
Bernyanyi Sambil Bergerak
Lagu sederhana yang disertai gerakan tangan dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan.
Ketika orang tua mengajak anak bertepuk tangan atau mengangkat kedua tangan sesuai irama, anak mendapat kesempatan meniru gerakan dan mengikuti pola suara.
Tidak masalah jika gerakannya belum tepat. Beri waktu untuk mengamati sebelum mencoba.
Membaca Buku Bergambar
Bayi dan toddler belum harus memahami keseluruhan cerita.
Menunjuk gambar kucing, mengenali warna, atau mendengarkan orang tua menyebut nama benda sudah menjadi pengalaman berbahasa.
Jika anak ingin membalik halaman sebelum cerita selesai, ikuti saja sesekali. Untuk usia ini, interaksi yang hangat lebih penting daripada menyelesaikan seluruh isi buku.
Memindahkan dan Menyusun Benda
Gunakan balok besar atau benda aman yang mudah digenggam.
Anak dapat mencoba menyusun, memasukkan, dan mengeluarkan benda dari wadah. Kegiatan ini memberi kesempatan untuk melatih koordinasi tangan serta memahami hubungan sebab dan akibat.
Sesuaikan tingkat kesulitan dengan kemampuan anak. Jangan memaksakan aktivitas yang masih terlalu sulit dilakukan.
Kapan Anak Mulai Bisa Mengikuti Kegiatan Kelompok?
Setelah terbiasa bereksplorasi di rumah, sebagian orang tua mulai mempertimbangkan kelas yang mempertemukan anak dengan guru dan teman seusianya.
Namun, tidak ada satu usia yang otomatis paling tepat bagi semua anak.
Ada toddler yang tampak penasaran ketika melihat kegiatan kelompok. Ada juga yang lebih memilih mengamati dari pelukan orang tua. Keduanya dapat menjadi respons yang wajar terhadap pengalaman baru.
Kegiatan kelompok pada usia dini sebaiknya memberikan ruang bagi anak untuk beradaptasi, dengan durasi yang tidak terlalu panjang dan aktivitas yang sesuai perkembangannya.
Pendampingan orang tua juga dapat membantu anak merasa aman.
Sebagai gambaran, program belajar untuk bayi dan toddler seperti Boss Baby di Sparks Preschool dirancang untuk usia 15–24 bulan. Kegiatannya melibatkan eksplorasi sensorik, gerakan, lagu, dan interaksi kelompok dengan pendampingan orang tua di setiap sesi.
Konsep kelas seperti ini bisa menjadi salah satu referensi ketika keluarga ingin mengenalkan pengalaman belajar di luar rumah secara bertahap.
Meski demikian, mengikuti kelas bukan suatu kewajiban. Anak tetap dapat memperoleh pengalaman belajar yang bermakna melalui interaksi dan permainan bersama keluarga.
Memilih Aktivitas yang Cocok dengan Tahap Perkembangan
Saat mencari kegiatan untuk anak, orang tua sebaiknya tidak hanya terpaku pada nama program atau hasil yang dijanjikan.
Perhatikan aktivitas yang benar-benar dilakukan di kelas.
Apakah anak mendapat kesempatan mencoba sendiri? Adakah waktu untuk bergerak dan beristirahat? Bagaimana guru merespons ketika anak menangis, menolak kegiatan, atau ingin berada dekat orang tuanya?
Durasi kegiatan juga perlu disesuaikan. Toddler biasanya lebih mudah mengikuti beberapa aktivitas pendek dibanding satu kegiatan panjang yang mengharuskannya duduk diam terus-menerus.
Jika keluarga berencana melanjutkan ke jenjang prasekolah, informasi mengenai pilihan program preschool sesuai usia anak dapat membantu memahami bagaimana pengalaman belajar berubah dari tahap pengenalan sekolah menuju Nursery dan Kindergarten.
Tidak harus semua program langsung diikuti. Pilih kegiatan yang memang sesuai dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga.
Perkembangan Anak Tidak Perlu Menjadi Perlombaan
Mungkin ada anak yang sudah lancar menyebut angka pada usia dua tahun. Sementara anak lain lebih senang memanjat, menggambar, atau memainkan benda-benda di sekitarnya.
Perbedaan minat dan kemampuan seperti ini tidak seharusnya langsung dijadikan ukuran siapa yang lebih unggul.
Orang tua bisa mendampingi dengan cara mengamati apa yang sedang menarik perhatian anak, memberi kesempatan mencoba, dan mengajak berinteraksi selama bermain.
Kalau ada kekhawatiran mengenai perkembangan tertentu, konsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional dapat membantu mendapatkan penilaian yang lebih sesuai.
Untuk keseharian, kegiatan sederhana sering kali sudah menawarkan banyak kesempatan belajar. Membacakan cerita sebelum tidur, bernyanyi sambil membereskan mainan, atau membiarkan anak mencoba menggunakan sendoknya sendiri.
Anak sedang belajar melalui berbagai pengalaman kecil tersebut. Dan sering kali, yang paling mereka butuhkan adalah orang dewasa yang mau hadir serta memberi waktu untuk mencoba.


Tinggalkan Balasan