MAMIKITA.COM – Hipotermia pada bayi adalah kondisi ketika suhu tubuh Si Kecil turun di bawah normal, yaitu kurang dari 36,5°C. Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele, karena bayi—terutama bayi baru lahir—belum mampu mengatur suhu tubuhnya dengan baik.

Jika tidak segera ditangani, hipotermia bisa berdampak serius pada kesehatan bayi. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali ciri-cirinya sejak dini.

Apa Itu Hipotermia pada Bayi?

Hipotermia adalah kondisi medis ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk memproduksinya. Bayi lebih rentan mengalami kondisi ini karena:

  • Lapisan lemak tubuh masih tipis
  • Sistem pengatur suhu belum matang
  • Mudah kehilangan panas dari lingkungan

Ciri-ciri bayi hipotermia yang perlu diwaspadai orang tua

Dikutip dari Oregon Health & Science University (OHSU), National Health Service (NHS), dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), ada beberapa ciri bayi hipotermia yang perlu diwaspadai oleh orang tua. Berikut ini deretannya:

1. Gangguan napas

Bayi bisa tampak merintih, napas menjadi lebih cepat, atau terlihat kesulitan bernapas. Pada kondisi tertentu, bibir atau kulit juga bisa tampak kebiruan, yang menandakan tubuh kekurangan oksigen.

2. Penurunan energi

Bayi terlihat jauh lebih lemas dari biasanya, Bunda. Selain itu, bayi juga bisa menjadi lebih rewel atau justru tampak sangat tenang karena energinya menurun.

3. Perubahan pada kondisi tubuh

Tubuh bayi bisa terasa sangat lemas saat digendong atau justru kaku dan tidak rileks. Dalam beberapa kondisi, Si Kecil juga bisa mengalami gemetar atau gerakan yang tidak normal.

4. Gangguan makan

Selanjutnya, bayi menjadi sulit menyusu dan hisapannya terasa lebih lemah dari biasanya. Akibatnya, asupan susu pun berkurang dan bisa memengaruhi kondisi tubuhnya.

5. Detak jantung dan napas bayi tidak stabil

Detak jantung bayi bisa menjadi terlalu cepat atau justru melambat dari kondisi normal, Bunda. Tidak hanya itu, napas Si Kecil juga bisa menjadi tidak teratur.

6. Perubahan pada kulit

Kulit Si Kecil terasa dingin saat disentuh dan tampak lebih pucat dari biasanya. Dalam beberapa kasus, warna kulit bisa berubah menjadi kebiruan, terutama di bagian tangan dan kaki.

7. Tubuh terasa dingin dan lemas

Saat disentuh, tubuh bayi terasa dingin meskipun sudah mengenakan pakaian. Kondisi ini biasanya disertai dengan tubuh yang sangat lemas dan respons yang menurun.

8. Lebih mudah mengantuk

Berikutnya, bayi akan tampak lebih sering mengantuk, Bunda. Bahkan, ia bisa menolak menyusu atau tidak merespons seperti biasanya.

Penyebab hipotermia pada bayi

Perlu diketahui bahwa hipotermia terjadi ketika tubuh bayi kehilangan panas dan suhu tubuhnya turun di bawah 35 derajat Celsius. Bayi bisa mengalami hipotermia jika:

  • Terlalu lama berada di tempat yang dingin, sehingga tubuhnya kehilangan panas secara perlahan.
  • Terpapar air dingin, misalnya saat tubuhnya basah dan tidak segera dikeringkan.
  • Menggunakan pakaian yang basah atau lembap.
  • Tinggal atau berada di lingkungan rumah yang dingin tanpa penghangat yang cukup.

Apa yang harus dilakukan orang tua saat bayi mengalami hipotermia?

Jika Bunda menduga Si Kecil mengalami hipotermia, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan sambil menunggu bantuan dari tenaga medis. Simak selengkapnya:

  • Segera pindahkan bayi ke dalam ruangan atau tempat yang lebih hangat dan terlindung dari udara dingin.
  • Lepaskan pakaian yang basah, lalu bungkus bayi dengan selimut atau handuk kering, dan pastikan bagian kepalanya juga tertutup supaya tetap hangat.
  • Usahakan bayi tetap terjaga dengan cara seperti mengajak berbicara atau menyentuhnya dengan lembut.
  • Pastikan Bunda selalu mendampingi Si Kecil.

Selain itu, Bunda juga perlu mengetahui bahwa ada beberapa hal yang sebaiknya tidak dilakukan karena tidak membantu dan justru bisa memperburuk kondisi bayi.

  • Jangan gunakan air panas untuk mandi atau botol berisi air panas untuk menghangatkan bayi, karena berisiko membahayakan kulitnya.
  • Jangan menggosok bagian tubuh seperti lengan, kaki, telapak kaki, atau tangan karena bisa memperburuk kondisi bayi.