Gaslighting pada anak merupakan bentuk manipulasi emosional yang dapat memengaruhi cara anak melihat dirinya sendiri, perasaannya, bahkan ingatannya. Kondisi ini terkadang tidak disadari karena terjadi melalui ucapan atau perlakuan yang dianggap sebagai hal biasa dalam pengasuhan.

Anak yang mengalami gaslighting secara berulang dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa perasaannya tidak valid, pendapatnya tidak penting, atau dirinya selalu menjadi penyebab masalah. Dampaknya bahkan bisa terbawa hingga remaja dan dewasa.

Karena itu, penting bagi orang tua dan orang-orang terdekat untuk mengenali tanda-tanda yang mungkin menunjukkan seorang anak pernah mengalami gaslighting.

Apa Itu Gaslighting pada Anak?

Gaslighting adalah perilaku manipulatif yang membuat seseorang mempertanyakan perasaan, ingatan, pengalaman, atau penilaiannya sendiri.

Pada anak, gaslighting dapat terjadi ketika orang dewasa berulang kali menyangkal pengalaman anak, meremehkan emosinya, atau membuat anak merasa bersalah atas sesuatu yang sebenarnya bukan kesalahannya.

Misalnya, ketika anak menangis karena merasa takut kemudian justru dikatakan, “Kamu terlalu cengeng,” atau ketika anak mengungkapkan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman tetapi dijawab, “Kamu cuma mengada-ada.”

Jika terjadi sesekali, ucapan seperti itu mungkin dianggap sebagai respons spontan. Namun, jika pola tersebut berlangsung terus-menerus dan membuat anak kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri, dampaknya dapat menjadi lebih serius.

1. Sering Meragukan Perasaan Sendiri

Salah satu tanda yang dapat terlihat adalah anak sering mempertanyakan apakah emosinya benar atau pantas dirasakan.

Anak mungkin mengatakan:

  • “Aku lebay nggak?”
  • “Aku salah ya?”
  • “Harusnya aku nggak marah, kan?”
  • “Aku terlalu sensitif nggak?”

Anak yang terbiasa mendapatkan respons bahwa emosinya berlebihan dapat belajar untuk tidak mempercayai perasaannya sendiri.

Padahal, merasa sedih, marah, takut, kecewa, atau cemas merupakan bagian normal dari perkembangan emosi.

2. Terlalu Sering Meminta Maaf

Anak yang pernah mengalami manipulasi emosional juga bisa tumbuh menjadi pribadi yang terlalu sering meminta maaf, bahkan ketika dirinya tidak melakukan kesalahan.

Misalnya, anak meminta maaf karena orang lain marah, meminta maaf karena menyampaikan pendapat, atau merasa harus bertanggung jawab atas suasana hati orang lain.

Kebiasaan tersebut dapat muncul karena anak belajar bahwa meminta maaf merupakan cara paling aman untuk menghindari konflik.

Jika berlangsung hingga dewasa, pola ini dapat membuat seseorang kesulitan mempertahankan batasan pribadi dalam hubungan sosial.

3. Takut Mengungkapkan Pendapat

Anak yang sering disalahkan atau dianggap tidak memahami situasi dapat menjadi takut menyampaikan pendapat.

Ia mungkin lebih memilih diam meskipun sebenarnya memiliki sesuatu yang ingin dikatakan.

Dalam situasi tertentu, anak juga bisa terus mencari persetujuan orang lain sebelum mengambil keputusan.

“Menurut kamu aku benar nggak?”

“Kalau aku melakukan ini boleh nggak?”

Kebiasaan tersebut dapat menunjukkan bahwa anak belum memiliki rasa percaya diri yang kuat terhadap penilaiannya sendiri.

4. Selalu Merasa Dirinya yang Salah

Anak korban gaslighting dapat terbiasa menganggap dirinya sebagai sumber masalah.

Ketika terjadi konflik, ia mungkin langsung berpikir bahwa semua kesalahan berasal dari dirinya.

Bahkan ketika orang lain melakukan kesalahan, anak bisa tetap merasa bertanggung jawab.

Pola tersebut perlu diperhatikan karena anak seharusnya belajar memahami bahwa sebuah konflik dapat memiliki banyak penyebab dan tidak selalu menjadi kesalahan satu orang.

5. Sulit Mempercayai Ingatan atau Penilaiannya

Gaslighting yang berlangsung lama dapat membuat seseorang mempertanyakan ingatannya sendiri.

Saat menceritakan suatu kejadian, anak mungkin sering menggunakan kalimat seperti, “Aku nggak tahu, mungkin aku salah ingat.”

Ia juga dapat merasa perlu mendapatkan konfirmasi dari orang lain sebelum mempercayai pengalaman yang dialaminya sendiri.

Jika pola ini muncul secara konsisten, orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk bercerita tanpa langsung menghakimi atau membantah pengalaman tersebut.

6. Sangat Takut Membuat Kesalahan

Anak memang membutuhkan arahan untuk belajar dari kesalahan. Namun, rasa takut yang berlebihan terhadap kesalahan perlu diperhatikan.

Anak mungkin menjadi sangat cemas ketika mengerjakan sesuatu, takut mengambil keputusan, atau langsung panik ketika melakukan kesalahan kecil.

Hal ini dapat terjadi jika sebelumnya anak sering mendapatkan respons yang membuat kesalahan terasa seperti sesuatu yang memalukan atau tidak dapat dimaafkan.

Orang tua dapat membantu dengan mengubah cara merespons kesalahan.

Daripada mengatakan, “Kok begitu saja salah?” lebih baik membantu anak memahami apa yang terjadi dan bagaimana memperbaikinya.

7. Terlalu Berusaha Menyenangkan Orang Lain

Anak yang pernah mengalami gaslighting bisa menjadi sangat berusaha menjaga perasaan orang lain.

Ia mungkin sulit mengatakan “tidak”, takut mengecewakan orang lain, atau selalu berusaha mengikuti keinginan orang di sekitarnya.

Pada dasarnya, memiliki empati merupakan hal yang positif. Namun, jika anak selalu mengorbankan kebutuhan dirinya agar orang lain tidak marah atau kecewa, kondisi tersebut perlu diperhatikan.

Anak perlu belajar bahwa menyenangkan orang lain bukanlah kewajiban setiap saat.

Dampak Gaslighting pada Anak hingga Dewasa

Pengalaman emosional pada masa kanak-kanak dapat memengaruhi cara seseorang membangun hubungan dan memandang dirinya ketika tumbuh dewasa.

Dalam beberapa kasus, pola gaslighting dapat berkontribusi terhadap rendahnya kepercayaan diri, kesulitan menetapkan batasan, kecenderungan mencari validasi, hingga kesulitan mempercayai penilaian sendiri.

Namun, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa seseorang pasti menjadi korban gaslighting hanya karena menunjukkan satu atau beberapa tanda tersebut.

Perilaku serupa dapat muncul karena berbagai faktor lain dalam perkembangan anak.

Karena itu, tanda-tanda di atas sebaiknya digunakan sebagai bahan untuk memahami kondisi anak, bukan sebagai alat untuk memberikan diagnosis.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

Jika orang tua melihat anak sering meragukan dirinya sendiri, langkah pertama adalah menciptakan lingkungan yang membuat anak merasa aman untuk berbicara.

Dengarkan cerita anak tanpa langsung menyalahkan atau membantah.

Ketika anak mengatakan dirinya sedih, misalnya, orang tua tidak harus langsung mengatakan bahwa masalah tersebut sebenarnya kecil.

Validasi bukan berarti selalu menyetujui semua tindakan anak. Validasi berarti mengakui bahwa emosi yang dirasakan anak memang ada.

Orang tua juga dapat membantu anak membedakan antara perasaan dan fakta.

Contohnya:

“Kamu memang sedang marah. Tidak apa-apa merasa marah. Sekarang kita cari tahu apa yang membuat kamu marah dan bagaimana menyelesaikannya.”

Respons seperti ini membantu anak memahami bahwa emosi tidak perlu disembunyikan, tetapi tetap perlu dikelola dengan baik.

Ajarkan Anak Mempercayai Dirinya

Kepercayaan diri tidak hanya dibangun dengan memberikan pujian. Anak juga perlu diberi kesempatan untuk mengambil keputusan, menyampaikan pendapat, dan belajar dari kesalahan.

Orang tua dapat mengajukan pertanyaan seperti:

“Menurut kamu bagaimana?”

“Kenapa kamu memilih itu?”

“Apa yang membuat kamu merasa tidak nyaman?”

Dengan cara tersebut, anak belajar bahwa pikirannya memiliki nilai dan layak didengarkan.

Orang tua juga perlu menghindari kebiasaan membandingkan anak, mempermalukan anak, atau menggunakan rasa bersalah untuk mengendalikan perilakunya.

Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional?

Jika pengalaman masa lalu membuat anak mengalami perubahan perilaku yang signifikan, kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, mengalami masalah dalam hubungan, atau terus-menerus memiliki pandangan negatif terhadap dirinya sendiri, orang tua dapat mempertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog anak atau tenaga profesional yang kompeten.

Bantuan profesional dapat membantu memahami penyebab perilaku sekaligus menentukan pendekatan yang sesuai.

Yang terpenting, anak perlu mengetahui bahwa dirinya tidak sendirian.

Gaslighting Bukan Kesalahan Anak

Anak tidak bertanggung jawab atas cara orang dewasa memperlakukannya.

Jika seorang anak pernah mengalami pola komunikasi yang membuatnya meragukan perasaan atau dirinya sendiri, proses pemulihan membutuhkan waktu dan lingkungan yang aman.

Orang tua dapat membantu dengan membangun komunikasi yang terbuka, mendengarkan tanpa menghakimi, menghargai perasaan anak, serta mengajarkan bahwa melakukan kesalahan merupakan bagian dari proses belajar.

Dengan dukungan yang tepat, anak dapat kembali membangun kepercayaan terhadap dirinya sendiri dan belajar memiliki hubungan yang lebih sehat dengan orang-orang di sekitarnya.