Kanker serviks atau kanker leher rahim sering berkembang perlahan tanpa gejala pada tahap awal. Karena itu, skrining penting untuk mendeteksi perubahan sel sejak dini, sebelum berkembang menjadi kanker invasif.

Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi persisten Human Papillomavirus (HPV) berisiko tinggi. Proses dari infeksi HPV hingga menjadi lesi prakanker dan kanker dapat berlangsung selama bertahun-tahun, sehingga deteksi dini memiliki peran penting dalam pencegahan.

Bagi perempuan di Jakarta Selatan, konsultasi dengan dokter skrining kanker serviks di Jakarta Selatan dapat membantu menentukan jenis pemeriksaan yang sesuai berdasarkan usia, riwayat kesehatan, dan faktor risiko.

Mengapa Disebut Silent Killer?

Secara medis, pemicu utama kanker serviks adalah infeksi persisten dari Human Papillomavirus (HPV), khususnya varian berisiko tinggi (high-risk HPV).

Pada banyak kasus, sistem kekebalan tubuh yang prima mampu mengeliminasi infeksi HPV secara alami. Namun, ketika infeksi tersebut menetap (persisten), virus secara perlahan akan merusak dan mengubah struktur DNA sel-sel leher rahim. Proses perubahan dari sel normal menuju lesi pra-kanker hingga menjadi kanker invasif membutuhkan waktu yang relatif panjang, yakni berjangka tahunan hingga dekade.

Selama rentang waktu tersebut, jaringan leher rahim yang mengalami perubahan sel tidak memicu rasa sakit. Akibatnya, pengidap tetap merasa bugar dan beraktivitas seperti biasa tanpa menyadari adanya proses patologis yang tengah berlangsung di dalam tubuhnya.

Mengapa Skrining Kanker Serviks Penting?

Salah satu tantangan dalam pencegahan kanker serviks adalah kondisi prakanker umumnya tidak menimbulkan keluhan yang khas. Seseorang dapat merasa sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa meskipun sudah terdapat perubahan pada sel leher rahim.

Skrining bertujuan menemukan perubahan tersebut sedini mungkin sehingga dapat dilakukan evaluasi dan penanganan sebelum berkembang menjadi kanker. WHO menempatkan skrining dan penanganan lesi prakanker sebagai salah satu pilar penting dalam upaya eliminasi kanker serviks. Karena itu, jangan menunggu munculnya gejala untuk melakukan skrining.

Beberapa gejala yang tetap perlu diperiksakan ke dokter antara lain:

  • Perdarahan setelah berhubungan seksual.
  • Perdarahan di luar siklus menstruasi.
  • Perdarahan setelah menopause.
  • Keputihan yang berubah warna, konsistensi, atau berbau tidak biasa.
  • Nyeri panggul.
  • Nyeri ketika berhubungan seksual.

Gejala-gejala tersebut tidak selalu berarti kanker serviks. Namun, pemeriksaan oleh dokter diperlukan untuk mencari penyebabnya.

Apa Saja Pemeriksaan untuk Skrining Kanker Serviks?

Pemilihan metode skrining dapat berbeda pada setiap perempuan. Dokter akan mempertimbangkan usia, riwayat skrining sebelumnya, faktor risiko, ketersediaan pemeriksaan, serta hasil pemeriksaan terdahulu.

Beberapa metode yang dikenal dalam skrining kanker serviks meliputi:

1. Pap Smear

Pap Smear merupakan pemeriksaan yang mengambil sampel sel dari leher rahim untuk melihat apakah terdapat perubahan atau kelainan pada sel.

Hasil yang abnormal tidak otomatis berarti seseorang terkena kanker. Temuan tersebut dapat menunjukkan adanya perubahan sel yang membutuhkan pemeriksaan atau pemantauan lebih lanjut.

2. HPV DNA Test

HPV DNA Test dilakukan untuk mendeteksi keberadaan HPV berisiko tinggi, yaitu jenis HPV yang berhubungan dengan perkembangan kanker serviks.

Saat ini, pendekatan skrining berbasis HPV semakin mendapat perhatian dalam rekomendasi internasional. WHO pada 2026 juga menerbitkan panduan mengenai penggunaan HPV DNA genotyping untuk membantu menentukan risiko dan pengelolaan pasien dengan hasil HPV positif.

3. Co-testing

Co-testing menggabungkan HPV test dan pemeriksaan sitologi/Pap Smear. Pemeriksaan ini dapat memberikan informasi yang lebih lengkap karena menilai keberadaan HPV berisiko tinggi sekaligus melihat perubahan pada sel serviks.

Namun, pemeriksaan yang paling sesuai tetap perlu ditentukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.

Kapan Sebaiknya Melakukan Skrining Kanker Serviks?

Jadwal skrining tidak selalu sama untuk setiap perempuan. Pedoman dapat berbeda berdasarkan negara, usia, metode pemeriksaan, riwayat hasil skrining, serta faktor risiko.

Sebagai contoh, rekomendasi ACOG yang diperbarui pada 2026 menyebutkan bahwa pada individu dengan risiko rata-rata, usia 21–29 tahun dapat menjalani sitologi setiap 3 tahun, sedangkan usia 30–65 tahun dapat menjalani skrining HPV risiko tinggi sebagai pemeriksaan primer setiap 5 tahun. Co-testing atau sitologi dapat menjadi alternatif dalam kondisi tertentu.

Karena itu, daripada menentukan sendiri pemeriksaan yang harus dilakukan, konsultasi dengan dokter dapat membantu menentukan jenis dan interval skrining yang sesuai dengan kondisi Anda.

Bagaimana Jika Hasil Skrining Tidak Normal?

Hasil skrining yang tidak normal bukan berarti pasien langsung dinyatakan mengalami kanker serviks.

Dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lanjutan berdasarkan jenis hasil yang ditemukan. Pemeriksaan tersebut dapat berupa pemeriksaan ulang, evaluasi serviks, kolposkopi, biopsi, atau tindakan lain sesuai indikasi.

Tujuan dari pemeriksaan lanjutan adalah mengetahui apakah terdapat:

  • Infeksi HPV berisiko tinggi.
  • Perubahan sel ringan.
  • Lesi prakanker.
  • Kelainan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
  • Kecurigaan kanker invasif.

Penanganan kemudian disesuaikan dengan hasil evaluasi dan karakteristik lesi.

Mengenal Thermal Ablation atau Cervical Cold Coagulation

Thermal Ablation atau Cervical Cold Coagulation  
Thermal Ablation atau Cervical Cold Coagulation

Selain layanan skrining dan evaluasi, KMNC juga menyediakan tindakan thermal ablation cervical cold coagulation sebagai salah satu pilihan penanganan lesi prakanker serviks pada pasien yang memenuhi kriteria medis.

Thermal ablation, yang juga dikenal sebagai cold coagulation atau thermocoagulation, merupakan tindakan ablasi menggunakan probe yang dipanaskan untuk menghancurkan jaringan serviks yang mengalami lesi prakanker. WHO memasukkan thermal ablation sebagai salah satu metode ablasi untuk penanganan lesi prakanker serviks.

Tindakan ini bukan pengganti skrining. Alurnya secara sederhana dapat digambarkan sebagai:

Skrining → hasil abnormal → evaluasi dokter → menentukan kelayakan tindakan → penanganan → tindak lanjut

Tidak semua pasien dengan hasil skrining abnormal dapat langsung menjalani thermal ablation. WHO menjelaskan bahwa tindakan ablasi perlu mempertimbangkan kondisi tertentu, antara lain tidak adanya kecurigaan kanker invasif atau penyakit glandular serta apakah seluruh lesi dan zona transformasi dapat terlihat dengan jelas.

Karena itu, keputusan mengenai thermal ablation harus dilakukan setelah dokter melakukan evaluasi dan menentukan bahwa tindakan tersebut sesuai untuk kondisi pasien.

Kolposkopi untuk Evaluasi Hasil Skrining Abnormal

Kolposkopi untuk Evaluasi Hasil Skrining Abnormal

Jika hasil Pap Smear atau HPV DNA Test menunjukkan kelainan, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lanjutan, salah satunya kolposkopi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat kondisi leher rahim secara lebih jelas menggunakan alat bernama kolposkop yang memiliki kemampuan pembesaran.

Kolposkopi membantu dokter mengidentifikasi area jaringan yang mengalami perubahan pada leher rahim. Jika ditemukan area yang mencurigakan, dokter dapat mengambil sampel jaringan atau biopsi untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium.

Kolposkopi tidak selalu berarti pasien mengalami kanker. Pemeriksaan ini bertujuan mengevaluasi lebih lanjut hasil skrining yang abnormal dan membantu dokter menentukan apakah terdapat perubahan sel ringan, lesi pra kanker, atau kelainan lain yang membutuhkan penanganan.

Secara umum, alurnya dapat digambarkan sebagai:

Skrining → hasil abnormal → kolposkopi ± biopsi → diagnosis/evaluasi → menentukan penanganan → tindak lanjut

Tidak semua hasil skrining abnormal memerlukan kolposkopi. Keputusan pemeriksaan lanjutan ditentukan dokter berdasarkan hasil skrining, usia, riwayat pemeriksaan, faktor risiko, serta kondisi pasien.

Skrining Kanker Serviks di KMNC Jakarta Selatan

Bagi perempuan yang sedang mencari dokter skrining kanker serviks di Jakarta Selatan, KMNC menyediakan layanan kesehatan perempuan yang dapat membantu mulai dari konsultasi, pemeriksaan skrining hingga evaluasi dan penanganan sesuai indikasi medis.

Di KMNC Beta Antasari, layanan skrining kanker serviks dan pemeriksaan ginekologi dapat dilakukan bersama dr. Dithya Welladatika, Sp.OG. Informasi pada materi awal juga mencantumkan layanan Pap Smear dan vaksinasi HPV sebagai bagian dari layanan kesehatan reproduksi perempuan di KMNC.

Selain pemeriksaan skrining, KMNC juga memiliki layanan tindakan thermal ablation cervical cold coagulation untuk kasus yang sesuai dengan indikasi dan hasil evaluasi dokter.

Segera lakukan konsultasi dan jadwalkan appointment melalui WhatsApp atau kunjungi website resmi KMNC (Kosambi Maternal and Children) di kmnc.co.id untuk informasi layanan dan promo menarik lainnya.