MAMIKITA.COM – Sekarang ini, semakin banyak penyakit yang tidak menular pada anak-anak. Salah satunya adalah usus buntu, karena biasanya usus buntu ini menyerang orang dewasa.

Ternyata, penyebab penyakit usus buntu pada anak terjadi karena gaya hidup anak-anak saat ini semakin tidak baik. Pencernaan pada anak belum terbentuk secara sempurna, hal ini mengakibatkan banyak anak yang terkena usus buntu.

Seperti dalam sebuah video yang diunggah di Instagram oleh akun @dr.trias_sp.anak. Dirinya membagikan sebuah pengalaman, yaitu memiliki pasien berusia 4 dan 6 tahun yang sudah mengalami penyakit usus buntu.

Usus buntu atau apendisitis adalah kondisi peradangan pada apendiks, yaitu bagian kecil berbentuk kantong yang menempel pada usus besar. Penyakit ini tidak hanya dialami orang dewasa, tetapi juga cukup sering terjadi pada anak-anak. Jika tidak segera ditangani, usus buntu dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti pecahnya apendiks.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami berbagai penyebab usus buntu pada anak agar dapat melakukan pencegahan dan mengenali gejala sejak dini.

1. Sumbatan pada Usus Buntu

Penyebab paling umum usus buntu pada anak adalah terjadinya sumbatan di saluran apendiks. Sumbatan ini bisa berasal dari sisa makanan yang mengeras (fekalit), lendir, atau pembesaran jaringan limfoid.

Ketika apendiks tersumbat, bakteri akan berkembang biak dengan cepat dan memicu peradangan.

2. Infeksi Saluran Pencernaan

Infeksi pada saluran pencernaan dapat menyebabkan pembengkakan jaringan limfoid di sekitar usus buntu. Kondisi ini sering terjadi pada anak karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang.

Pembengkakan tersebut dapat menutup saluran apendiks dan meningkatkan risiko terjadinya peradangan.

3. Kurangnya Asupan Serat

Pola makan rendah serat menjadi salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan usus buntu pada anak. Kurangnya serat dapat menyebabkan sembelit, sehingga tinja menjadi keras dan sulit dikeluarkan.

Tinja yang mengeras berpotensi menyumbat saluran usus buntu dan memicu peradangan.

4. Pembesaran Kelenjar Getah Bening

Pada anak-anak, kelenjar getah bening di sekitar usus dapat membesar akibat infeksi, seperti flu atau radang tenggorokan. Pembesaran ini bisa menekan atau menyumbat apendiks.

Akibatnya, aliran di dalam usus buntu terganggu dan menimbulkan peradangan.

5. Faktor Bakteri

Pertumbuhan bakteri berlebihan di dalam apendiks juga menjadi penyebab usus buntu. Ketika saluran apendiks tersumbat, bakteri akan berkembang tanpa kontrol dan menyebabkan infeksi.

Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berujung pada pecahnya usus buntu.

6. Faktor Usia dan Aktivitas Anak

Usus buntu lebih sering terjadi pada anak usia sekolah hingga remaja. Pada usia ini, aktivitas anak cenderung tinggi dan sering kali tidak diimbangi dengan pola makan sehat dan teratur.

Kebiasaan menunda buang air besar juga dapat meningkatkan risiko terjadinya sumbatan pada usus buntu.

Cara Mengurangi Risiko Usus Buntu pada Anak

Meskipun tidak semua kasus usus buntu dapat dicegah, orang tua dapat mengurangi risikonya dengan:

  • Memberikan makanan tinggi serat seperti sayur dan buah
  • Memastikan anak minum air putih yang cukup
  • Membiasakan pola buang air besar yang teratur
  • Segera memeriksakan anak ke dokter jika mengalami nyeri perut yang tidak biasa

Penyebab usus buntu pada anak umumnya berkaitan dengan sumbatan, infeksi, dan pola makan yang kurang sehat. Deteksi dini dan pemahaman orang tua sangat penting untuk mencegah komplikasi yang berbahaya.

Jika anak mengeluhkan nyeri perut hebat, terutama di perut kanan bawah, disertai demam, mual, atau muntah, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.