Mengenal Penyakit Sarampa: Mirip Campak, Ini Penyebab dan Cara Mengobatinya

Bunda mungkin baru pertama kali mendengar tentang penyakit Sarampa. Ini adalah jenis penyakit yang bisa membuat penderitanya mengalami ruam kemerahan pada kulit mirip dengan campak.

Namun apakah Sarampa dan Campak itu sama, atau justru berbeda? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini sampai habis

Tentang Penyakit Sarampa

gejala penyakit sarampa

Seperti penjelasan sebelumnya, penderita Sarampa sering mengalami gejala seperti ruam kemerahan di kulit disertai keluhan demam.

Penyebabnya utamanya masih dalam perdebatan, karena ada yang menyebut Sarampa disebabkan karena virus HHV-6 dan disebut sebagai penyakit Roseola Infantum.

Kedua, ada yang menyebut Sarampa disebabkan virus paramyxovirus yaitu penyebab penyakit campak. Ini karena gejala yang ditimbulkan dari keduanya sangat mirip, sehingga tak heran jika keduanya dianggap sama.

Perbedaan Sarampa dan Campak

Walaupun mirip, bunda bisa membedakan Sarampa dan Campak dari gejala yang dikeluarkan penderitanya.

Penderita Sarampa biasanya mengalami gejala seperti muncul ruam merah dan demam. Kadang juga disertai dengan diare, gatal, kelopak mata membengkak, dan menurunnya nafsu makan.

Selain itu, penderita Sarampa juga akan menujukkan ruam kemerahan dan demam yang muncul hanya gejala awal namun akan semakin parah pada hari berikutnya.

Sedangkan pada penderita campak, umumnya akan mengalami mata memerah berair, pilek, bersin-bersin, batuk kering, lelah, penurunan nafsu makan, hingga paling parah adalah sensitif terhadap cahaya.

Cara Mencegah dan Mengobati Penyakit Sarampa

pengobatan penyakit sarampa

Untuk pencegahan penyakit campak sudah tidak sulit, hanya perlu melakukan imunisasi. Lain halnya dengan Sarampa yang hingga sekarang belum ditemukan vaksin untuk mencegah munculnya penyakit tersebut.

Namun, Jika bunda atau anggota keluarga mengalami campak atau penyakit Sarampa, ada beberapa metode pengobatan alami yang dianjurkan seperti:

1. Kasumba Turate atau Sari Bunga Teratai

Sarampa adalah penyakit yang cukup familiar di Sulawesi. Orang-orang sana biasanya menggunakan Kasumba Turate untuk dijadikan ramuan herbal obat penyakit Sarampa.

Selain sebagai obat Sarampa, Kasuma Turate ini juga biasa dipergunakan masyarakat Sulawesi untuk mengobati cacar air.

2. Air Kelapa Muda

Masih belum ada bukti medis yang menjelaskan jika air kelapa muda bisa menjadi obat penyakit Sarampa.

Hanya saja, orang tua jaman dulu sudah lebih dulu menggunakan metode pengobatan Sarampa dengan air kelapa muda dan terbukti efektif.

Faktanya, air kelapa muda mengandung nutrisi yang berguna bagi kekuatan daya tahan tubuh. Artinya, saat minum air kelapa, penderita Sarampa akan lebih kuat melawan virus dalam tubuhnya.

3. Rebusan Kunyit

Kunyit sejak dulu dikenal sebagai obat herbal yang berfungsi sebagai anti inflamasi terbaik. Sehingga, tubuh bisa lebih kuat melawan berbagai bakteri, pathogen, dan virus berbahaya.

Kabar baiknya, air rebusan kunyit bisa dipergunakan sebagai obat sarampa yang cukup efektif.

Pasalnya, kunyit diketahui mengandung curcumin yang bisa mengurangi ruam kulit. Selain itu, terdapat pula antioksidan yang merupakan zat anti radang terbaik.

4. Rebusan Cengkeh

Bunda juga bisa menggunakan air rebusan cengkeh untuk mengobati penyakit Sarampa. Sama halnya dengan kunyit, dalam cengkeh juga terkandung zat anti inflamasi untuk mengurangi gejala penyakit tersebut.

Apabila metode pengobatan herbal di atas masih belum bisa mengurangi gejala yang timbul, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter ahli. Dengan begitu, dapat lebih cepat dilakukan penanganan lebih lanjut.

Itu dia tadi informasi tentang penyakit Sarampa, termasuk virus penyebabnya, hingga metode pengobatan yang dianjurkan. Jika anak tiba-tiba demam dan menunjukkan gejala diatas, segera lakukan pemeriksaan ke dokter ya bun.

Dapatkan update berita pilihan dan informasi unik setiap hari dari mamikita.com. Follow mamikita di Google News mamikita.com, kemudian ikuti dengan klik ikon agar bisa mendapatkan notifikasi setiap saat.

I’m ARMY and K-pop addict yang concern menulis artikel sejak 2011. Menulis adalah penyampaian abadi, jadi buat ia berkesan tanpa ada kesalahan di dalamnya.

Artikel Terkait