MAMIKITA.COM – Permasalahan pendidikan anak usia dini tidak hanya berkaitan dengan pembelajaran, tetapi juga mencakup pengasuhan, kesehatan, dan lingkungan sosial. Dalam konteks ini, keterlibatan keluarga dinilai menjadi faktor kunci dalam mendukung tumbuh kembang anak sekaligus mencegah stunting.

Hal tersebut disampaikan Trina Fizzanty dalam kegiatan Eduresearch Sharing Session yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional di Jakarta, Rabu (15/4).

Menurut Trina, kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh cara merawat dan mempersiapkan anak sejak dini, baik di lingkungan keluarga maupun satuan pendidikan. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara rumah dan sekolah sebagai fondasi utama.

Sementara itu, peneliti BRIN, Nurul Qolbi Izazy, memaparkan hasil riset 2024 terkait parenting terintegrasi antara rumah dan sekolah di PAUD. Ia menjelaskan bahwa PAUD tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga mencakup pengasuhan dan pemenuhan gizi anak.

Menurutnya, perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh kesinambungan pengalaman di rumah, sekolah, dan lingkungan sosial. Kualitas interaksi orang tua, seperti komunikasi, membaca bersama, dan bermain, dinilai lebih penting dibanding fasilitas belajar yang mewah.

Konsep parenting terintegrasi sendiri mencakup kemitraan berkelanjutan antara keluarga dan sekolah, mulai dari komunikasi rutin hingga program seperti kelas parenting, pelibatan ayah, serta pemanfaatan media digital. Meski demikian, penerapannya masih menghadapi tantangan, seperti keterbatasan waktu orang tua dan kurang optimalnya komunikasi.

Di sisi lain, dosen Universitas Pendidikan Indonesia, Yanti Shantini, menyoroti pentingnya transformasi peran ibu dalam pencegahan stunting melalui pendekatan partisipatif.

Ia menekankan bahwa ibu perlu diposisikan sebagai subjek aktif, bukan sekadar penerima informasi. Dengan pendekatan pemberdayaan, ibu didorong untuk mencari, memahami, hingga menyebarkan pengetahuan terkait pencegahan stunting di lingkungan keluarga dan komunitas.

Yanti menilai, meskipun angka stunting secara nasional mulai menurun, dampaknya di tingkat keluarga belum maksimal. Hal ini dipengaruhi oleh faktor budaya, keterbatasan peran kader, serta rendahnya dorongan internal ibu untuk bertindak mandiri.

Melalui pendekatan partisipatif dan pemberdayaan, ibu diharapkan mampu menjadi agen perubahan atau “duta stunting” yang aktif dalam upaya menciptakan generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.