7 Penyebab Anak Usia 4 Tahun ke Atas Mulai Sering Berbohong
MAMIKITA.COM – Memasuki usia 4 tahun ke atas, banyak orang tua mulai menyadari perubahan perilaku pada anak, salah satunya adalah kebiasaan berbohong.
Anak bisa menyangkal perbuatannya, mengarang cerita, atau mengatakan sesuatu yang tidak sesuai fakta. Kondisi ini sering membuat orang tua khawatir dan bertanya-tanya apakah kebiasaan tersebut merupakan tanda masalah serius.
Padahal, berbohong pada anak usia dini merupakan bagian dari proses tumbuh kembang. Namun, penting bagi orang tua untuk memahami penyebab anak mulai sering berbohong agar dapat menyikapinya dengan tepat.
1. Perkembangan Imajinasi yang Semakin Aktif
Pada usia 4 tahun ke atas, kemampuan imajinasi anak berkembang sangat pesat. Anak mulai sulit membedakan antara fantasi dan realitas. Cerita yang terdengar seperti kebohongan sering kali bukan dilakukan dengan niat menipu, melainkan karena anak terbiasa berimajinasi dan bermain peran.
Dalam banyak kasus, anak hanya sedang mengekspresikan kreativitas dan dunia khayalnya sendiri.
2. Takut Dimarahi atau Dihukum
Rasa takut terhadap reaksi orang tua merupakan penyebab paling umum anak berbohong. Anak belajar bahwa mengakui kesalahan dapat berujung pada kemarahan atau hukuman, sehingga mereka memilih berbohong sebagai cara untuk melindungi diri.
Jika suasana di rumah terlalu keras atau penuh ancaman, anak akan cenderung menyembunyikan kebenaran demi merasa aman.
3. Ingin Mendapatkan Perhatian
Anak usia 4 tahun ke atas mulai memahami bahwa cerita tertentu dapat menarik perhatian orang dewasa. Mereka mungkin berbohong atau melebih-lebihkan cerita agar mendapat respons, pujian, atau simpati.
Kondisi ini sering terjadi ketika anak merasa kurang diperhatikan atau ingin menjadi pusat perhatian di lingkungan keluarga.
4. Meniru Perilaku Orang Dewasa
Anak merupakan peniru ulung. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar setiap hari. Ketika anak melihat orang dewasa berbohong, meski dengan alasan kecil seperti “bilang saja ayah tidak ada di rumah”, anak akan menganggap berbohong sebagai hal yang wajar.
Tanpa disadari, contoh dari orang tua atau lingkungan sekitar sangat memengaruhi perilaku anak.
5. Belum Memahami Konsep Kejujuran
Pada usia dini, anak belum sepenuhnya memahami makna jujur dan bohong secara moral. Mereka belum mengerti dampak dari ketidakjujuran terhadap orang lain.
Anak sering mengatakan sesuatu yang tidak benar karena belum mampu memahami perbedaan antara fakta, pendapat, dan keinginan pribadi.
6. Ingin Menghindari Tanggung Jawab
Anak mulai belajar tentang konsekuensi dari tindakan mereka. Saat merasa belum siap menerima tanggung jawab, anak mungkin berbohong untuk menghindari tugas atau kesalahan, seperti menyangkal telah menumpahkan minuman atau merusak barang.
Perilaku ini menunjukkan bahwa anak sedang belajar tentang sebab dan akibat, meski caranya belum tepat.
7. Dorongan untuk Mendapatkan Pengakuan
Anak usia 4 tahun ke atas mulai membentuk rasa percaya diri. Dalam proses ini, mereka mungkin berbohong untuk terlihat hebat, pintar, atau berani di mata orang lain.
Misalnya, mengaku bisa melakukan sesuatu padahal belum mampu. Ini merupakan bagian dari upaya anak membangun identitas dirinya.
Kebiasaan berbohong pada anak usia 4 tahun ke atas umumnya bukan tanda perilaku buruk, melainkan bagian dari perkembangan emosional dan kognitif. Yang terpenting bagi orang tua adalah memahami penyebab di balik kebohongan tersebut dan merespons dengan bijak.
Membangun komunikasi yang hangat, memberikan contoh kejujuran, serta menciptakan lingkungan yang aman akan membantu anak belajar berkata jujur tanpa rasa takut.
