Mengapa Kasus Skizofrenia Di Indonesia Menjadi Yang Tertinggi Di Dunia?


Gaya HidupBagi sebagian pasangan, mendapatkan dua garis pada alat tes kehamilan mungkin menjadi perjalanan yang relatif singkat. Namun, bagi pasangan lainnya, perjalanan tersebut dapat berlangsung lebih panjang dan membutuhkan konsultasi, pemeriksaan kesuburan, hingga program kehamilan yang disesuaikan dengan kondisi medis. Salah satu pengalaman tersebut datang dari seorang pasien yang menjalani program hamil di KMNC (Kosambi Maternal […]
Gaya HidupMemantau tumbuh kembang anak bukan hanya tentang melihat pertambahan berat badan dan tinggi badan. Seiring bertambahnya usia, orang tua juga perlu memperhatikan perkembangan kemampuan anak, mulai dari motorik, bahasa dan komunikasi, kemampuan belajar, hingga interaksi sosial dan emosional. Pemantauan tumbuh kembang secara berkala dapat membantu orang tua mengetahui perkembangan anak sesuai tahapan usianya. Pemeriksaan juga […]
Gaya HidupKhitan atau sunat merupakan prosedur yang umum dilakukan pada anak laki-laki di Indonesia, baik karena alasan agama dan budaya maupun pertimbangan kesehatan. Bagi orang tua, memilih tempat khitan tidak hanya berkaitan dengan harga dan metode yang digunakan, tetapi juga keamanan prosedur, kompetensi tenaga medis, fasilitas, serta perawatan setelah tindakan. Secara medis, khitan atau sirkumsisi merupakan […]
Rupanya kasus skizofrenia di Indonesia ini memiliki pengidap terbanyak di dunia. menurut hasil Disability Adjustes Life Years menyebutkan, kalau jumlah pasien Skizofrenia di Indonesia menduduki peringkat nomor satu di dunia.
Apabila merujuk pada hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, diperkirakan kalau sekitar 450 ribu masyarakat Indonesia merupakan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berat.
Melansir dari akun Instagram @pandemictalks bahwa sepanjang 2024 ini penderita skizofrenia paling banyak diopname di RS-RS Jakarta.
Tingkat stres yang tinggi di Jakarta, menjadi salah satu pemicu timbulnya masalah kesehatan jiwa. Sepanjang tahun 2024, penderita skizofrenia tercatat paling tinggi diopname di DKI Jakarta.
Data dari Dinas Kesehatan Jakarta itu tercatat, bahwa jumlah pasiennya lebih banyak dari pasien pneumonia, diare dengan skizofrenia (ODS). Mereka ini dirawat inap di berbagai rumah sakit umum serta 55.253 ODS yang awat jalan.
Ketua perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Jakarta, Eria Istriana mengatakan bahwa penyebab skizofrenia multifaktor dan tidak berdiri sendiri. Diantaranya faktor biologis seperti genetik.
Kemudian alasan kasus skizofrenia di Indonesia tinggi, juga pengaruh dari faktor psikologis seperti pola asuh, kepribadian dan manajemen stres individu. Hingga faktor sosial, seperti kondisi lingkungan tempat tinggal, trauma, kedukaan, KDRT dan bullying.
Skizofrenia adalah gangguan mental berat yang dapat mempengaruhi tingkah laku, emosi dan komunikasi. Skizofrenia ini bisa mengalami halusinasi, delusi, kekacauan berpikir dan perubahan perilaku.
Perlu diketahui bahwa penderita skizofrenia ini berisiko 2-3 kali lebih tinggi mengalami kematian pada usia muda. Hal ini karena skizofrenia umumnya disertai dengan penyakit lain. Seperti penyakit jantung, diabetes atau indeksi.
Selain itu juga skizofrenia ini sangat rentan melakukan percobaan bunuh diri. Skizofrenia ini sering kali disamakan dengan psikosis, padahal keduanya berbeda.
Psikosis ini hanyalah salah satu dari gejala gangguan mental, seperti gangguan bipolar, delusi, depresi berat dan skizofrenia. Meski begitu gejala psikosis ini dapat muncul pada penderita skizofrenia namun tidak semua penderita pasti mengalaminya.
Untuk penyebabnya sendiri, belum diketahui secara pasti. Namun, ada faktor yang diduga dapat meningkatkan terjadinya skizofrenia, di antaranya faktor genetik dan pengaruh lingkungan.
Hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan skizofrenia. Namun ada pengobatan yang dapat mengendalikan dan mengurangi gejala dari pasien. Sehingga mereka dapat hidup layaknya orang normal.
Akan tetapi pengobatan tersebut harus dilakukan seumur hidup. Serta diikuti dengan kontrol rutin. Penanganan skizofrenia juga dapat dengan obat-obatan, psikoterapi dan terapi seperti elektrokonvulsi atau pemberian gelombang elektromaknetik ke otak.
Skizofrenia ini dapat dicegah sepenuhnya. Sebab dapat dipicu oleh faktor genetik dan ketidakseimbangan zat di dalam otak.
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan mendeteksi dan mengobatinya sejak dini. Sehingga perburukan dan kekambuhan akan penyakit tersebut dapat dicegah.
Itulah tadi mengapa kasus skizofrenia di Indonesia tertinggi di dunia, terutama Jakarta. Meski begitu penderita skizofrenia tetap bisa tanggulangi dan dicegah menjadi lebih parah dengan berbagai pengobatan yang ada sekarang ini.